Sabtu, November 09, 2013

Surat Terakhir untuk Cinta Pertama

Salam...
Bismillah....Jika masih mungkin engkau bisa kutemui, maka aku ingin skali kembali seperti dulu lagi. Bergembira dan bermain sesuka hati. Tapi itu mustahil, seseorang di sampingmu telah menutup masa lalu itu.
Menulis surat ini dan menyebutmu sebagai cinta pertamaku pun aku sangat sungkan. Bahkan aku tak ingin kau membaca tulisan ini. Oh, sungguh bodohnya aku ini. Menulis surat, tapi tak ingin kau melihatnya.
Ku simpan untuk diriku saja.
Ibarat kehilangan alamat.
Pertemuan terakhir kita, jika aku tak salah ingat; di bangku sekolah SMP. Sampai di titik ini, rasanya tak ada kuasa ingin mengingat kembali yang telah sudah.
Maaf, ini hanya kerinduanku saja. Yang kutahu ini tidaklah pantas. Kusadari ini tidaklah wajar. Dan sangat kupahami bahwa masa lalu adalah masa lalu. Masing-masing kita telah dewasa, jalan hidup kita berbeda. Tapi bagaimanapun, kita pernah ada di setapak yang sama. Setapak taman sekolah.
Sekali lagi maaf, ini hanya kerinduan kecil yang sebentar lagi akan berlalu. Yang kupastikan akan hilang dibawa alunan lagu Agnes Monica – yang sedang kuputar.
".......Bayang-bayangmu di batas senja
Matahari membakar rinduku...."
Agnes Monica : Rindu

Bodoh, ku tahu surat ini tidak akan sampai kepadamu, aku masih saja melanjutkannya. Seolah aku sedang berbicara denganmu, sedang kau mendengarkan tanpa komentar apa pun.
Maka surat ini akan kusimpan untuk diriku saja. Jika kau menemukannya dengan tidak sengaja, dan mengenangku sebagai cinta pertamamu-dengan tidak sengaja pula-saat membaca surat ini, anggap saja ini ini hanya tugas Bahasa Indonesia yang perlu kau contek. Selesai atau tidak selesai, ini harus dikumpul pada guru. Tak perlu serius membacanya. Sekali lagi, anggap saja ini PR. 

Namun perlu kau ketahui, ini adalah surat terakhirku untukmu.

Dari Azizah
Wassalam....

Artikel Terkait

Surat Terakhir untuk Cinta Pertama
4/ 5
Oleh

Berlangganan

Suka dengan artikel di atas? Silakan berlangganan gratis via email